Tak Berjudul
Malam ini
Jauh renungku
Mengira kisah yang kau bentang
semalam
Melumat semua yang kau hampar
Pahit memang
Duhai tuan
Tak cukupkah satu kembang
sajamenadi dalam taman rasamu?
Dalam berdua kau hendak
bertiga
Tidakkah hanya aku yang tau
ahit kopimu?
bising dengkurmu
bising dengkurmu
Atau lantang suaramu menyuara
cinta?
Kusulam satu-satu rasa
Mencoba menjelma sabar
Aku ini perempuan
Garis tanganku didua ditiga
diempatkan
Tapi tuan,
Lemah bagiku juga suratan
Tak kuat menidakkan
Ingat,
Patrikan ini baik-baik
Jika adil tak kudapat,
Tunggu saja balasNya merapat.
Yang Sejati
Semoga ini sebagai bukti,,
Semoga ini sejati.
Semoga Dia mengampuni
Semoga kita menghikmahi
Kita yang sedang merangkai takdir
Kita yang sedang merasai getir
Kita yang sedang membujuk hati,,
Kita yang sedang menjadi diri.
Air mata seakan penanda
Aliran darah seakan ikut serta
Duka cinta itu nyata adanya
Ragam cara Dia..
Ragam sangka kita padaNya..
Rabbana ihdinia..
Naudzubillah
Aku kuatir dengan suatu masa yang rodanya dapat menggilas keimanan.
Keyakinan tinggal pemikiran, yang tak berbekas dalam perbuatan. Banyak
orang baik tapi tidak berakal. Ada orang
berakal tapi tidak beriman. Ada lidah fasih tapi berhati lalai. Ada
yang khusuk tapi sibuk dalam kesendirian. Ada ahli ibadah tapi mewarisi
kesombongan iblis. Ada ahli maksiat tapi bagai sufi. Ada yang banyak
tertawa tapi hatinya berkarat. Ada yang banyak menangis tapi kufur
nikmat. Ada yang murah senyum tapi hatinya mengumpat. Ada yang berhati
tulus tapi wajahnya cemberut. Ada yang berlisan bijak namun tak memberi
teladan. Ada pezina yang tampil menjadi figur. Ada yang berilmu tapi tak
faham. Ada yang faham tapi tak menjalankan. Ada yang pintar tapi
membodohi. Ada yang bodoh tapi tak tau diri. Ada yang beragama tapi tak
berahlak. Ada yang berahlak tapi tak bertuhan. Lalu diantara semua itu
dimanakah aku berada?
Sayyidina Imam Ali bin Abi Thalib karamallahu
wajhah
SAJAK KECIL TENTANG CINTA
11:49 AM |
Label:
Puisi Supardi Djokodamono
mencintai angin harus menjadi siut
mencintai air harus menjadi ricik
mencintai gunung harus menjadi terjal
mencintai api harus menjadi jilat
mencintai cakrawala harus menebas jarak
mencintaiMu harus menjadi aku
Brjalan KeBarat Diwaktu Pagi
Berjalan Ke Barat Di Waktu Pagi Hari
Waktu berjalan ke barat di waktu pagi hari matahari mengikutiku di belakang
Aku berjalan mengikuti bayang-bayangku sendiri yang memanjang di depan
Aku dan matahari tidak bertengkar tentang siapa di antara kami yang telah menciptakan bayang-bayang
Aku dan bayang-bayang tidak bertengkar tentang siapa di antara kami yang harus berjalan di depan
By: Supardi Djokodamono
Looooveeee this poethry >_<
Kapan?
Tersungkur tersujud
Mengharap
Merintih merayap
Menengadah,, menyeru nama Sang Pemberi..
......... dalam gelap
Rabb,, kapan kami seatap... ?
ini puisi tersingkat dan tercepat yang saya bikin.. 1 menit..haha :D
Langganan:
Komentar (Atom)
Total Tayangan Halaman
PII Wati Sumbar
salah satu organisasi yang saya ikuti
di pantai..
bersama iiy,, adik satu-satunya yang paling bisa nglawann
dikampus :D
ga sadar di foto tapi sebenarnya sadar
hujan
Publicidad:
Mencipta bagaimana
Otros blogs del grupo:
Pages
twitter. Diberdayakan oleh Blogger.
Translate
Popular Posts
-
Aku ingin bercerita Tentang kaya ragam dunia yang terlewat Padamu seorang Aku ingin mendengar kau bercerita Darimu tentang dunia...
-
Aku masih menjahit rasa Ketika bila ku regang dalam tanya Menyulam masa Menjelma sabar Tapi Pecah s...
-
Kita tak butuh berdekatan untuk saling dekat Kita tak butuh pertemuan untuk saling mengenali Kita tak butuh suara ...
-
Malam ini Jauh renungku Mengira kisah yang kau bentang semalam Melumat semua yang kau hampar Pahit memang Duha...
-
mencintai angin harus menjadi siut mencintai air harus menjadi ricik mencintai gunung harus menjadi terjal mencintai api harus menjad...
-
Sore itu Ibnu Khaldun berkata pada penulisnya, “ catatlah, bahwa aku tidak mengabaikan…. Sekarang kita dihadapkan pada fenomena nov...
-
Tersudut diruang gelap, Mati karna rasa, Asa yang tinggi membahana, Melangit terhempas mati, Melayang tak da...
-
Tuhan Segala keluhku, angkatlah. Telah ku tunaikan janji Pada malam-malam panjang yang sempat kita ukir Telah kutingga...
Aku Pembelajar
-
Aku ingin bercerita Tentang kaya ragam dunia yang terlewat Padamu seorang Aku ingin mendengar kau bercerita Darimu tentang dunia...
-
Aku masih menjahit rasa Ketika bila ku regang dalam tanya Menyulam masa Menjelma sabar Tapi Pecah s...
-
Kita tak butuh berdekatan untuk saling dekat Kita tak butuh pertemuan untuk saling mengenali Kita tak butuh suara ...
-
Malam ini Jauh renungku Mengira kisah yang kau bentang semalam Melumat semua yang kau hampar Pahit memang Duha...
-
mencintai angin harus menjadi siut mencintai air harus menjadi ricik mencintai gunung harus menjadi terjal mencintai api harus menjad...
-
Sore itu Ibnu Khaldun berkata pada penulisnya, “ catatlah, bahwa aku tidak mengabaikan…. Sekarang kita dihadapkan pada fenomena nov...
-
Tersudut diruang gelap, Mati karna rasa, Asa yang tinggi membahana, Melangit terhempas mati, Melayang tak da...
-
Tuhan Segala keluhku, angkatlah. Telah ku tunaikan janji Pada malam-malam panjang yang sempat kita ukir Telah kutingga...












